Gizi pada pasien Hemodialisa

Malnutrisi merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada pasien ESRD terutama pada pasien-pasien Gagal Ginjal Terminal yang menjalani terapi hemodialisis. Status nutrisi pada pasien tersebut harus cukup diperhatikan karena sangat berkaitan dengan kualitas hidup pasien. Pada pasien-pasien dialysis rutin di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung, parameter yang digunakan untuk mengetahui status nutrisi pasien yaitu dengan menggunakan gabungan antara parameter SGA (Subjective Global Assesment) dengan data anthropomentric dan pemeriksaan biokimia.

SGA (Subjective Global Assesment) adalah salah satu metode penilaian status nutrisi berdasarkan data klinis bersifat tidak invasive dan tidak memerlukan peralatan khusus, dapat diterapkan pada berbagai keadaan klinis dan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.

Tujuan dari dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui status nutrisi pada pasien Gagal Ginjal Terminal yang menjalani terapi hemodialisis. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif yang menjelaskan persentase suatu keadaan dalam hal ini mengenai status nutrisi pasien hemodialisis.

Pengumpulan data ini dilakukan pada pasien-pasien HD rutin seminggu 2 x maupun seminggu sekali yaitu sebanyak 85 orang yang terdiri dari 45 orang laki-laki dan 40 orang perempuan. Seluruh subjek dilakukan wawancara dengan menggunakan questioner SGA dan dilakukan pengukuran anthropometric dan biokimia (sysmex, diffcount, ureum dan kreatinin) post hemodialisis. Setelah data terkumpul, pasien dikategorikan tingkat SGAnya menjadi SGA A (status nutrisi baik), SGA B (malnutrisi sedang) dan SGA C (malnutrisi buruk) yang kemudian digabungkan dengan data objective yaitu data anthropometric dan biokimia sehingga akan muncul skor yang akan menentukan pasien berada di level 1 (tingkat resiko gizi rendah), level 2 (tingkat resiko gizi sedang) dan level 3 (tingkat resiko gizi tinggi).

Pada pasien Hemodialisis rutin di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung, didapatkan data SGA A 57 orang, SGA B 23 orang, dan SGA C 6 orang. Setelah digabungkan dengan data objective (anthropometric dan biokimia), maka pada pasien hemodialisis di RSUP Dr Hasan Sadikin yang berada di level 1 sebanyak 40 orang (47,1%), level 2 sebanyak 36 orang (42,3%) dan level 3 sebanyak 9 orang (10,6%).

Dari data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa SGA merupakan metode yang sangat sederhana untuk memeriksakan status nutrisis pasien dan dapat digabungkan dengan parameter lain yaitu anthropometric dan biokimia sehingga dapat terlihat tingkat resiko gizi pasien tersebut. Dihasilkan bahwa pasien-pasien yang menjalani hemodialisis rutin di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung sebanyak 47,1% berada di level 1 (tingkat resiko gizi rendah), level 2 sebanyak 42,3 % (tingkat resiko gizi sedang) dan level 3 sebanyak10,6% (tingkat resiko gizi tinggi).

Disampaikan dalam kegiatan :

Indonesian Nephrology Nurse Association (PPGII)

MEETING AND SYMPOSIUM 2008

Sebuah penelitian pernah dilakukan untuk melihat adanya hubungan antara konsentrasi asam amino dalam plasma serta status nutrisi pasien gagal ginjal yang telah dilakukan hemodialisis (HD). Penelitian ini sengaja dilakukan untuk menilai apakah pemberian asam amino memberikan manfaat pada pasien yang menjalani HD.

Penelitian ini dilakukan terhadap 22 pasien yang menjalani HD dan juga dilakukan pemeriksaan darah di laboratorium selama pasien tersebut menjalani HD yaitu pada 10 bulan dan 288 bulan dan dibandingkan dengan kelompok kontrolnya yang berhasil dikumpulkan adalah sebanyal 20 sukarelawan sehat.

Yang dinilai dalam penelitian ini adalah : status nutrisi yang dikorelasi dengan konsentrasi albumin, selain itu juga dilakukan pemeriksaan terhadap parameter indeks massa tubuh atau body mass index, persentase lemak tubuh, diukur lean body mass yang mana semuanya dilakukan penilaian dengan metode inframerah.

Dilakukan pula pengukuran terhadap penanda inflamasi seperti kadar CRP (C-reactive protein) dan pengukuran terhadap 20 jenis asam amino di dalam plasma darah pasien dengan menggunakan metode  precolumn orthophtalaldehyde derivatization, dengan memakai cairan kromatografi  pada alat HPLC, yang menilai setiap kandungan dari asam amino. Metode ini digunakan untuk menilai asam amino yang hilang selama pasien HD dan dibandingkan dengan kelompok kontrolnya, sepertinya prinsip dari metode penelitian ini sama dengan penelitian endogenous formula.

Dari 22 pasien yang ikut penelitian, yang status nutrisinya dalam kategori malnutrisi adalah 9 pasien (41%) dan 1 diantaranya malnutrisinya adalah berat, sisanya adalah status nutrisinya baik.

Kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap pasien dan dibandingkan antara pasien yang menjalani dialisis dibandingkan dengan kelompok kontrolnya, menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan konsentrasi asam amino baik yang esensial maupun yang tidak esensial secara bermakna (P < .05).

Selain itu juga menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan konsentrasi  dari sebagian besar asam amino atau 16 jenis asam amino dari 20 asam amino yang ada selama pasien mengalami dialisis lebih dari 2 tahun dibandingkan dengan yang baru saja menjalani dialisis.

Rasio asam amino BCAA dan asam amino aromatik rendah dibandingkan dengan kelompok kontrolnya. Semakin lama pasien menjalani dialisis menunjukkan angka rasio yang semakin rendah, dimana batasan lamanya menjalani dialisis adalah 2 tahun. Tidak adanya korelasi antara konsentrasi berbagai jenis asam amino dan penanda inflamasi atau terhadap lamanya menjalani HD.

Pada pasien yang dalam kategori malnutrisi, menunjukkan kemaknaan yang baik dimana menunjukkan bukti bahwa konsentrasi asam amino esensial seperti lysine, leucine, isoleucine, valine, dan threonine rendah (P =0,04) begitu juga konsentrasi CRP juga demikian.

Sehingga simpulan penelitian tersebut adalah betapa pentingnya nutrisi yang baik pada pasien pasien yang menjalani HD karena selama menjalani HD telah terjadi abnormalitas kadar asam amino, yang berdampak terhadap status nutrisi pasien yang akan menjadi malnutrisi dan pasien mengalami inflamasi apalagi jika HD dilaksanakan jangka panjang.

 

Post new comment